Di sebuah rumah besar bercat kusam di pinggir distrik perbaikan, Mona membawa Lynx masuk. Interior bangunan itu tampak sederhana, penuh perabot usang dan dinding logam berkarat dengan goresan-goresan dalam yang menunjukkan usia serta bekas pertempuran kecil. Cahaya redup menyelinap dari lampu gantung yang berayun pelan di langit-langit, menambah kesan kumuh dan misterius.

"Jangan heran, Kora selalu sibuk bekerja sehingga tidak pernah mengurus rumahnya dan banyak hal sering terjadi disini. Dia ada di dalam. Hanya dia yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki mesinmu," ujar Mona sambil tersenyum samar. "Tunggu sebentar di sini, aku akan memanggilnya."

Lynx mengangguk, namun nalurinya sudah memberi tanda bahaya. Terlalu sepi. Tidak ada suara mesin, tidak ada dengung khas peralatan bekerja, bahkan suara langkah pun nyaris tak terdengar selain milik Mona. Lynx pun segera mengaktifkan kemampuan mata langitnya sekedar untuk berjaga-jaga.

Dari balik dinding logam yang menutupi ruangan sebelah, ia melihat Mona berjalan cepat ke arah pintu kedua yang tersembunyi di balik rak usang. Sebelum menutup pintu itu, perempuan itu sempat melirik ke arahnya dengan tatapan berbeda. Lynx melihat keramahan yang sebelumnya dia tunjukkan menghilang, berubah menjadi sorot dingin seperti seekor predator yang melihat buruannya telah masuk perangkap.

Di ruangan tersembunyi itu, Mona tidak sendirian. Beberapa sosok bertudung gelap telah menunggunya di dalam. Mereka semua membawa senjata bius dan berbagai peralatan seperti jaring elektromagnetik. Alat-alat yang biasa mereka gunakan untuk melumpuhkan makhluk hidup tanpa membunuh.

"Targetnya sudah masuk ke dalam perangkap," bisik Mona cepat. "Terserah kalian bagaimana caranya. Tangkap dia hidup-hidup. Kalian sudah baca pesan dari Eliza, kan? Dia memiliki armor tempur canggih. Jangan beri dia waktu untuk mengaktifkannya. Secepatnya bius dia."

Tatapan para pemburu mengeras. Gerak tubuh mereka tenang dan terlatih, jelas bukan orang sembarangan. Dan bangunan dimana Lynx berada saat ini adalah perangkap utama yang mereka persiapkan dan tidak pernah gagal.

Faktanya, Mona, Eliza, dan Sara adalah bagian dari kelompok kriminal lintas planet bernama The Circuit. Sebuah organisasi bayangan yang menguasai perdagangan makhluk hidup dan penyelundupan teknologi langka di banyak sistem bintang. Mereka kerap menyamar sebagai teknisi, penjelajah, atau relawan untuk menipu korbannya. Di balik wajah ramah dan profesi palsu itu, mereka adalah pemburu ulung, menargetkan individu dengan kekuatan tempur tinggi atau kepemilikan teknologi langka. Lynx dan Leena adalah sasaran ideal.

The Circuit bukan sekadar penculik. Mereka terhubung dengan jaringan arena pertarungan ilegal yang tersebar di banyak planet, tempat makhluk dari berbagai ras diadu demi hiburan para bangsawan, kolektor, dan penonton kaya raya. Para petarung yang diturunkan di sana biasanya dijerat dengan uang, dijanjikan nama besar, atau sekadar diancam. Tak sedikit pula yang dijebak, lalu dipaksa bertarung demi menyelamatkan diri atau orang yang mereka cintai.

Di perjalanan mereka sebelumnya, bersama rekan-rekan lainnya, mereka berhasil menipu salah satu keluarga kaya yang ingin mengobati putrinya yang memiliki penyakit langka, Isha, untuk dibawa ke planet Yura. Selama perjalanan, mereka selalu terlihat baik dan ramah serta melindungi Yura. Namun tanpa di duga, mereka terjebak di planet Orjeon sehingga rekan-rekan dan orang kaya yang ingin di kuras hartanya, terbunuh. Sehingga mereka berubah pikiran dengan menjual Isha sebagai budak.

Ketika Eliza melihat Lynx dan Leena yang muncul dengan cara tidak biasa, ditambah tidak lama setelah Eliza melihat pemuda itu menggunakan pakaian tempur, terjadi keanehan planet Orjeon meledak dan sebuah perisai melindungi pesawat mereka, ia langsung mencium potensi besar. Eliza segera mengirim pesan rahasia ke rekan-rekan yang lain dan menyusun rencana untuk menangkap mereka dan merebut pakaian tersebut.

Langkah pertama mereka, memisahkan Lynx dan Leena. Karena bersama, mereka sulit dikendalikan. Tapi terpisah… mereka adalah mangsa. Selain itu, mereka dapat menggunakan Leena sebagai sandra jika pemuda tersebut susah di tundukkan.

"Kamu tidak akan bisa lari pemuda bodoh. Bangunan ini terbuat dari baja khusus dan kamu tidak akan bisa melarikan diri dari tempat ini." batin Mona sambil tersenyum licik. "Pakaianmu harus menjadi milikku sebelum orang lain yang mendapatkannya."

Diam-diam, selama ini Mona menyimpan beberapa barang jarahan untuk dirinya sendiri dan dia berniat berpisah dengan The Circuit untuk membentuk teamnya sendiri.

Lynx yang memperhatikan struktur bangunan tersenyum tipis, dia sudah menduga ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Lynx tanpa menghilangkan kewaspadaan, dia tetap bersikap santai.

Tidak lama, dari berbagai sudut, asap putih mengandung bius tinggi keluar memenuhi ruangan.

Dengan mata langitnya, Lynx dapat melihat orang-orang yang di temui Mona sudah bersiap di luar bangunan. Sebagai profesional, mereka tidak pernah meremehkan lawannya, meski sudah di kurung oleh ruangan baja khusus yang mengandung jebakan asap bius, mereka tetap menyiapkan berbagai peralatan untuk antisipasi buruan memiliki cara meloloskan diri.

Lynx tidak bergerak. Tatapannya dingin. Tanpa berkata apa pun, ia mengalirkan sedikit Qi ke sabuk di pinggangnya. Dalam sekejap, serat-serat hitam menyerupai logam mulai merayap keluar, menjalar seperti makhluk hidup yang membungkus tubuhnya.

Dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya diselimuti oleh lapisan hitam mengilap, baju tempur yang tampak menyatu dengan dirinya. Helm tertutup rapat menutupi wajahnya, dan visornya memancarkan sinar redup berwarna biru.

Dari ruang pengawasan, Mona memandangi layar holografis dengan wajah tegang. Penampilannya berubah drastis. "Bodoh! Aku sudah bilang jangan beri dia kesempatan mengaktifkan armor itu!" geramnya. "Aku harus segera menghubungi Sera dan Eliza."

Kekhawatiran Mona bukan tanpa alasan. Setelah menggunakan pakaiannya, Lynx berjalan keluar dari bangunan seolah baja dinding itu hanya tirai tipis. Satu pukulan menghancurkan penghalang logam di depannya, melemparkan serpihan ke segala arah.

Belasan sosok bertudung yang sudah menunggu di luar sontak bereaksi. Mereka tak membuang waktu. Dalam sekejap, berbagai senjata dan perlengkapan dikerahkan. Senapan bius menyala, pelontar jaring energi ditembakkan, dan alat kejut berdaya tinggi mulai menyala dengan gemuruh. Drone penjerat melesat ke udara, memutari Lynx sambil menargetkan tubuhnya, sementara tabung-tabung gas penidur mulai mendesis, menyebar kabut beracun yang pekat.

Mereka tidak panik. Setiap gerakan mereka terkoordinasi. Ini bukan pertama kalinya mereka memburu makhluk berbahaya, namun mereka belum tahu siapa yang mereka hadapi sebenarnya.

Komplotan itu mengira pakaian Lynx hanya perlindungan canggih biasa. Mereka menembakkan peluru bius berlapis yang diklaim mampu menembus logam tempur sekalipun. Jaring-jaring energi berkilat menjerat dari segala arah. Granat gelombang kejut dilempar untuk menghentikan gerakan Lynx bahkan sebelum ia sempat menghindar.

Dengan kecepatan yang mata biasa tak bisa tangkap, ia berkelit di antara tembakan dan perangkap, menghindar tanpa suara, tanpa membalas. Jaring-jaring energi terjatuh tanpa menyentuh kulitnya, peluru bius menembus udara kosong, dan drone-drone tali yang mengikat dengan mudah di putuskan.

Seorang penyerbu mencoba mendekat dari belakang, mengayunkan tongkat kejut. Tapi sebelum alat itu menyala, Lynx sudah berbalik dan menggeser tubuh lawannya hanya dengan satu gerakan ringan. Pria itu terjatuh sendiri, menabrak rekannya dan membuat dua orang langsung tersungkur ke lantai.

Tabung gas penidur ditembakkan. Asap keunguan menyebar cepat di sekitar Lynx. Namun ketika kabut itu menipis, Lynx masih berdiri di tengah, tidak terpengaruh sedikit pun.

"Kalian hanya semut," suaranya terdengar pelan namun tajam di balik helm. "Meski bisa menggigit, tapi tidak pernah bisa menjatuhkan gunung."

Para penyerbu mulai goyah. Beberapa mencoba melarikan diri, sementara yang lain masih berusaha mengatur taktik baru. Namun yang mereka hadapi bukan manusia biasa, dan bukan pula makhluk yang bisa mereka pahami dengan logika dunia ini.

Dari ruangan pengawasan, Mona menyaksikan semuanya lewat layar holografis. Raut wajahnya tegang, napasnya tertahan.

"Ini… mustahil…" bisiknya.

Dengan cepat, ia menekan panel di pergelangan tangannya dan mengirimkan transmisi ke Eliza dan Sera.

"Target terlalu kuat. Segera kirim bantuan. Ulangi, segera kirim bantuan!"

Belum sempat para penyerbu melarikan diri, suara gemuruh berat terdengar dari arah belakang. Lantai bergetar. Dinding-dinding bangunan berderak.

